Jakarta, Agustus 2004
Lelah bola
mataku melewati malam, menanti pagi
Mengharap
hadirmu di pagi biru, dengan penuh harap tiada arti
Pagipun
beranjak menuju siang, siang enggan beranjak
Menuju
senja karena disini aku menunggu sebak
Menghitung
jari tanpa henti, lupa akan gundah sesaat
Aku terus
menunggu semut aspal berlalu membawamu cepat
Tapi tak
datang hadirmu menghapiri, aku penat
Aku resah,
aku menangis , kamu berkelit
Kemana
akan ku bawa resahku mencarimu
Jejakmu
hilang bak debu di hempas angin berlalu
Tak
tersisa jejakmu untuk aku telusuri mencari rindu
Aku
bisikan pada angin kemana jejakmu
Cahaya
pagi yang ku tunggu karena sinarmu memberiku
Sedikit cerita
yang dapat ku dengar darimu
Ada suka,
ada duka, semua terkisah dari bibirmu
Yang
mungkin mengalir deras tanpa rasa mengganggu
Akhirnya
aku berlalu tanpa bisa menunggumu
Mengharap
bayang diri menemuiku
Gelisah
tetap bergantung dibenakku
Dimana kamu
berada aku jemu ......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar