Matahari belum menampakan wajah ketika aku akan berangkat untuk mengantar order kue, kulihat dua gadis manisku masih lelap, kusapu kedua wajah gadisku dengan tanganku, manis kataku dalam bisik, dua gadisku tak pernah banyak permintaan kecuali dalam otaknya hanya makanan ketika mereka lapar dan tidak ada makanan di rumah itulah yang mereka minta berdua, tidak pernah mereka ribut akan keadaan sekolah, tidak pernah mereka meminta yang di luar kemampuanku, mereka berdua terlalu pendiam.
Tangan - tangan mereka tak jauh dari HP, dan mereka pun tidak bergaul keluar, pulang sekolah ganti baju, sholat, aktifitas seperti biasa, main ditempat tidur, sampai pagi kembali. Tapi pagi ini begitu beda, aku tatap wajahnya, aku cium mereka berdua, dalam hati berkata kalian sudah dewasa, kalian sudah besar, aku bangga sebagai seorang ibu.
Aku senang dengan keadaan mereka, rasanya mereka anak rumahan, tidak pernah keluar rumah, hanya di dalam rumah nonton televisi, baca informasi di HP atau laptop. Ternyata aku salah, aku salah besar , dalam keadaan diam mereka berdua, dalam keadaan bening air matanya jatuh mereka memendam batin yang sangat dalam, Mereka tidak pernah mau bercerita padahal biasanya mereka terbuka, dengan keadaan apapun mereka pasti bercerita.
Sore menjelang malamaku pulang ke rumah ketika aku sandarkan sepeda motor depan rumah, dan memanggil kedua gadisku, tidak ada sahutan, tidak ada tanda- tanda ada kehidupan , padahal sendal dan sepatu masih lengkap di depan rumah, berarti mereka anak- anakku tidak pergi kemana - mana , mungkin dia tidur dalam hatiku, aku bawa makan yang mereka titip ketika aku keluar tadi pagi kedalam, aku hampiri mereka di atas tempat tidur, kebalikan wajah mereka berdua, terkejut aku, histeris aku , ketika aku tahu keadaan anakku saat itu, mulut berbusa mereka berdekapan, sendainya aku terlambat datang, mungkin nyawa mereka berdua akan hilang.
Aku peluk kedua muka anak gadisku, aku tampar, aku bangunkan, aku hembuskan napas untuknya, aku menangis, aku menjerit, betapa tidak aku sangka anak gadisku bisa berbuat seperti itu, airmataku terus bercucuran , aku tidak sanggup melihatnya, ternyata mereka memendam beban batin yang teramat dalam, terlalu teguncang jiwanya , hingga jalan itu mereka ambil.
Syukurlah , sekarang anakku sudah mulai kembali sehat, dan kembali beraktifitas, walau hatinyanya kini sedang dalam keadaan kembali seperti semula,