Rabu, 07 Desember 2016

7 Desember 2016

Ini mungkin bulan terakhir,
tapi bagiku ini awal menempuh jalan yang semakin panjang
lelehan air mata semakin deras
buncahan emosi semakin tinggi

entah menggapa jalan yang aku lewati semakin berat
semakin panjang, dan semakin berliku
rasa tak ada habis derita yang aku rasakan
sedari kecil, dewasa , hingga kini ibu dari 3 putri


Rabu, 12 Oktober 2016

Luka Itu


Ku hempas, tak ada ruginya aku
Ku lepas, biar hati bicara
Tak ingin ku genggam , percuma
Ku bawa, tak ada baiknya
Hati batu, Kepala Besi
Dirimu bukan hatiku
Pergi, dan rasakan hidup
Jangan lagi kau lihat hitam bola mataku
Lihat betapa kejam aku pada hidupmu
Agar kau tahu arti dari hidup ini...
Tak akan aku ingat lagi
Dan aku berjalan menutup mata, hati dan telinga
Aku akan tuli, bisu dan buta untukmu
Terlalu dalam luka itu
Mungkin tak kan sembuh sampai aku MATI
Bila esok aku Mati
Tak guna pusaran itu kau tangisin
Hatiku beku untukmu

Selasa, 09 Juni 2015

Kekuatanmu

Kadang tangan ku ini  tak lagi  mampu untuk  melindungi diri
Karena aku tahu sekarang tanganmu pelindungku
Kadang aku tak sanggup berkata untuk berbohong
Karena aku telah percaya padamu

Ku serahkan semua apa yang ada,
Ke berikan semua yang aku punya
Ku jabarkan semua yang telah lalu
Ku untai agar kamu tahu

Ku tak ingin ada yang aku sembunyikan
Ku tak ingin ada yang aku rahasiakan
Ku tak ingin ada yang aku tutupi
Karena aku hanya ingin kamu tahu aku punya diri

Telah kulewati tanpa rasa takut
Telah kulalui tanpa rasa risih
Telah aku lampaui batas rasa takut
Karena kamu takan pernah tersisih

Kekuatanmu begitu dahsyat
Mengoyahkan hati yang kekar
Melunglaikan tubuh yang kokoh
Menjatuhkan ribuan rasa bahagia

Selasa, 31 Maret 2015

Anak Gadisku

                  Matahari belum menampakan wajah  ketika aku akan berangkat untuk mengantar order kue, kulihat dua gadis manisku masih lelap, kusapu kedua wajah gadisku dengan tanganku, manis kataku dalam bisik, dua gadisku tak pernah banyak permintaan kecuali dalam otaknya hanya makanan ketika mereka lapar dan tidak ada makanan di rumah itulah yang mereka minta berdua, tidak pernah mereka ribut akan keadaan sekolah, tidak pernah mereka meminta yang di luar kemampuanku, mereka berdua terlalu  pendiam.
                 Tangan - tangan mereka tak jauh dari HP, dan mereka pun tidak bergaul keluar, pulang sekolah ganti baju, sholat, aktifitas seperti biasa, main ditempat tidur, sampai pagi kembali. Tapi pagi ini begitu beda, aku tatap wajahnya, aku cium mereka berdua, dalam hati berkata kalian sudah dewasa, kalian sudah besar, aku bangga sebagai seorang ibu.
                 Aku senang dengan keadaan mereka, rasanya mereka anak rumahan, tidak pernah keluar rumah, hanya di dalam rumah nonton televisi, baca informasi di HP atau laptop. Ternyata aku salah, aku salah besar , dalam keadaan diam mereka berdua, dalam keadaan bening air matanya jatuh mereka memendam batin yang sangat dalam, Mereka tidak pernah mau bercerita padahal biasanya mereka terbuka, dengan keadaan apapun mereka pasti bercerita.
                Sore menjelang malamaku pulang ke rumah  ketika aku sandarkan sepeda motor depan rumah, dan memanggil kedua gadisku, tidak ada sahutan, tidak ada tanda- tanda ada kehidupan , padahal sendal dan sepatu masih lengkap di depan rumah, berarti mereka anak- anakku tidak pergi kemana - mana , mungkin dia tidur dalam hatiku, aku bawa makan yang mereka titip ketika aku keluar tadi pagi kedalam, aku hampiri mereka di atas tempat tidur, kebalikan wajah mereka berdua, terkejut aku, histeris aku , ketika aku tahu keadaan anakku saat itu, mulut berbusa mereka berdekapan, sendainya aku terlambat datang, mungkin nyawa mereka berdua akan hilang.
                  Aku peluk kedua muka anak gadisku, aku tampar, aku bangunkan, aku hembuskan napas untuknya, aku menangis, aku menjerit, betapa tidak aku sangka anak gadisku bisa berbuat seperti itu, airmataku terus bercucuran , aku tidak sanggup melihatnya, ternyata mereka memendam beban batin yang teramat dalam, terlalu teguncang jiwanya , hingga jalan itu mereka ambil.
                  Syukurlah , sekarang anakku sudah mulai kembali sehat, dan kembali beraktifitas, walau hatinyanya kini sedang dalam keadaan kembali seperti semula,

Selasa, 03 Februari 2015

Kau

Jerit tangis menguncang jiwa
Air mata berderai tanpa kata
Kau sapu perlahan tanpa kata
Menatap penuh iba

Terus menjerit terus berguncang
Tidak peduli apa yang hilang
Terus berjalan tak lihat belakang
Aku meronta  dari kekang

Terus kau tatap aku penuh derai
Iba melihat tubuh lunglai
Aku datang dengan tubuh terbuai
Tersadar aku lalai

Satu persatu beningku jatuh
Kau tampung dengan lemah tubuh
Kau sapu perlahan beningku penuh
Tersadar aku mulai rapuh

Aku berharap kau datang
Membawa segumpal riang
Agar aku tertawa lapang
dan tidak ada lagi jerit terguncang




Selasa, 27 Januari 2015

Bukahkah Kamu Yang Meminta

Bukannkah malam ini kamu yang meminta
aku berada dibuaian malam
terus bermimpi dalam fatamorgana
terus berkahayal dalam mimpi tak bertepi

Bukankah malam ini kamu yang meminta
aku berada dalam dekapmu
hingga tubuh lemas dan mata terpejam
kenapa kau tinggalkan aku dalam keheningan

Bukankah malam ini kamu yang meminta
memintal kasih menjadi benang  kerinduan
hingga tak ada lelah berpacu dalam cumbu
tetapi kau biarkan aku sendiri dalam tepian rindu

Bukankah malam ini kamu yang meminta
melumat bibirmu lembut
mendekap tubuhmu hangat
terus menanti malam tak ada rasa itu

Bukankah malam ini kamu yang meminta
menemani tidurmu dalam kesendirian
menatap langit tanpa bintang
kesepian itu terus mendera

Bukankah malam ini kamu yang meminta datang
aku menunggu , tetap menunggu kau datang
walau ditepi kerinduan tak ada lagi tempat bersandar
aku tetap menunggumu datang