Selasa, 09 Juni 2015

Kekuatanmu

Kadang tangan ku ini  tak lagi  mampu untuk  melindungi diri
Karena aku tahu sekarang tanganmu pelindungku
Kadang aku tak sanggup berkata untuk berbohong
Karena aku telah percaya padamu

Ku serahkan semua apa yang ada,
Ke berikan semua yang aku punya
Ku jabarkan semua yang telah lalu
Ku untai agar kamu tahu

Ku tak ingin ada yang aku sembunyikan
Ku tak ingin ada yang aku rahasiakan
Ku tak ingin ada yang aku tutupi
Karena aku hanya ingin kamu tahu aku punya diri

Telah kulewati tanpa rasa takut
Telah kulalui tanpa rasa risih
Telah aku lampaui batas rasa takut
Karena kamu takan pernah tersisih

Kekuatanmu begitu dahsyat
Mengoyahkan hati yang kekar
Melunglaikan tubuh yang kokoh
Menjatuhkan ribuan rasa bahagia

Selasa, 31 Maret 2015

Anak Gadisku

                  Matahari belum menampakan wajah  ketika aku akan berangkat untuk mengantar order kue, kulihat dua gadis manisku masih lelap, kusapu kedua wajah gadisku dengan tanganku, manis kataku dalam bisik, dua gadisku tak pernah banyak permintaan kecuali dalam otaknya hanya makanan ketika mereka lapar dan tidak ada makanan di rumah itulah yang mereka minta berdua, tidak pernah mereka ribut akan keadaan sekolah, tidak pernah mereka meminta yang di luar kemampuanku, mereka berdua terlalu  pendiam.
                 Tangan - tangan mereka tak jauh dari HP, dan mereka pun tidak bergaul keluar, pulang sekolah ganti baju, sholat, aktifitas seperti biasa, main ditempat tidur, sampai pagi kembali. Tapi pagi ini begitu beda, aku tatap wajahnya, aku cium mereka berdua, dalam hati berkata kalian sudah dewasa, kalian sudah besar, aku bangga sebagai seorang ibu.
                 Aku senang dengan keadaan mereka, rasanya mereka anak rumahan, tidak pernah keluar rumah, hanya di dalam rumah nonton televisi, baca informasi di HP atau laptop. Ternyata aku salah, aku salah besar , dalam keadaan diam mereka berdua, dalam keadaan bening air matanya jatuh mereka memendam batin yang sangat dalam, Mereka tidak pernah mau bercerita padahal biasanya mereka terbuka, dengan keadaan apapun mereka pasti bercerita.
                Sore menjelang malamaku pulang ke rumah  ketika aku sandarkan sepeda motor depan rumah, dan memanggil kedua gadisku, tidak ada sahutan, tidak ada tanda- tanda ada kehidupan , padahal sendal dan sepatu masih lengkap di depan rumah, berarti mereka anak- anakku tidak pergi kemana - mana , mungkin dia tidur dalam hatiku, aku bawa makan yang mereka titip ketika aku keluar tadi pagi kedalam, aku hampiri mereka di atas tempat tidur, kebalikan wajah mereka berdua, terkejut aku, histeris aku , ketika aku tahu keadaan anakku saat itu, mulut berbusa mereka berdekapan, sendainya aku terlambat datang, mungkin nyawa mereka berdua akan hilang.
                  Aku peluk kedua muka anak gadisku, aku tampar, aku bangunkan, aku hembuskan napas untuknya, aku menangis, aku menjerit, betapa tidak aku sangka anak gadisku bisa berbuat seperti itu, airmataku terus bercucuran , aku tidak sanggup melihatnya, ternyata mereka memendam beban batin yang teramat dalam, terlalu teguncang jiwanya , hingga jalan itu mereka ambil.
                  Syukurlah , sekarang anakku sudah mulai kembali sehat, dan kembali beraktifitas, walau hatinyanya kini sedang dalam keadaan kembali seperti semula,

Selasa, 03 Februari 2015

Kau

Jerit tangis menguncang jiwa
Air mata berderai tanpa kata
Kau sapu perlahan tanpa kata
Menatap penuh iba

Terus menjerit terus berguncang
Tidak peduli apa yang hilang
Terus berjalan tak lihat belakang
Aku meronta  dari kekang

Terus kau tatap aku penuh derai
Iba melihat tubuh lunglai
Aku datang dengan tubuh terbuai
Tersadar aku lalai

Satu persatu beningku jatuh
Kau tampung dengan lemah tubuh
Kau sapu perlahan beningku penuh
Tersadar aku mulai rapuh

Aku berharap kau datang
Membawa segumpal riang
Agar aku tertawa lapang
dan tidak ada lagi jerit terguncang




Selasa, 27 Januari 2015

Bukahkah Kamu Yang Meminta

Bukannkah malam ini kamu yang meminta
aku berada dibuaian malam
terus bermimpi dalam fatamorgana
terus berkahayal dalam mimpi tak bertepi

Bukankah malam ini kamu yang meminta
aku berada dalam dekapmu
hingga tubuh lemas dan mata terpejam
kenapa kau tinggalkan aku dalam keheningan

Bukankah malam ini kamu yang meminta
memintal kasih menjadi benang  kerinduan
hingga tak ada lelah berpacu dalam cumbu
tetapi kau biarkan aku sendiri dalam tepian rindu

Bukankah malam ini kamu yang meminta
melumat bibirmu lembut
mendekap tubuhmu hangat
terus menanti malam tak ada rasa itu

Bukankah malam ini kamu yang meminta
menemani tidurmu dalam kesendirian
menatap langit tanpa bintang
kesepian itu terus mendera

Bukankah malam ini kamu yang meminta datang
aku menunggu , tetap menunggu kau datang
walau ditepi kerinduan tak ada lagi tempat bersandar
aku tetap menunggumu datang


Tidak Sekedar

Aku tak sekedar berlinang air mata ketika rindu
Aku tak sededar bersesak dada ketika kau jauh
Aku tak sekedar hampa ketika kau tak disisi

Lewat rembulan malam,
Lewat pelanggi jingga,
Lewat awan putih

Semua aku aku bisikan agar kau
dapat mendengar rinduku
yang membuncah

Bertahan tak berlinang air mata
Bertahan tak sesak didada
Bertahan tak hampa

Mana mungkin bisa
Hatiku telah terpatri
untukmu kekasihku

Menunggu lewat fajar pagi
Menunggu lewat senja
Menunggu lewat malam

Aku akan tetap berada dalam rindumu
Aku tetap berada dalam hatimu
Karena kutempatkan kau direlung hati paling dalam

Rabu, 07 Januari 2015

Mencintaimu

Aku mencintaimu lewat hati
Bukan hanya sekedar ilusi
Walau tangis ini tak lagi berperi
Aku tetap lawan cinta hati

Perlahan, aku mulai sadar
Diriku bulah lagi radar
Dimana ada rasa hambar
Karena bagimu aku tak layak bersandar

Aku mencintiamu lewat naluri
Mencari dalam tatap sepi
Tidak ada yang tersebunyi
aku terus berlalri

Mengejar cinta tanpa pernah pergi
Pergi ringkih dari diri
Tertatih terus sambil berlari
Mencari cinta lewat hati

Naluriku ada untuk itu
Dan cintaku tetap ada
Bersama hati aku akan hadir
Menemuimu lewat hati

Selasa, 06 Januari 2015

Embun

Sayangnya embun pagi itu tak pernah ada
Di tepi dedaunan yang membutuhkan
Walau aku tahu mentari malu menapakan wajah
Seperti enggan menyapa tanpa ada rasa
Terhempas oleh butiran bening
Kering kerontang tak ada lagi nyawa

Terus meronta tak ada guna
Candu embun tak lagi mampu
Membuai rindu penuh dengan  ragu
Terus mendekap hangat
Lengan mulai melemah
Melepas rindu satu persatu

Berharap embun datang
Dengan bening tanpa noda
Bersandar ditengah angin bergejolak
Akankah embun bening akan datang

Biar tak lagi kerontang
Biar tak lagi haus akan rindu
Lepas dan pasrah lewat titian waktu
Mencari dan mencari ...
Menunggu tetap embun kembali
Membawa sejuta rindu dalam bening