19 September 2009, begitu indah tatap matamu, begitu
mempesonanya kamu dimataku, kuredam, semua bisa kuredam. Sekeping hatiku telah
hancur dan lantak “ itu pikirku dalam lamun” akankah kuhancurkan kembali hati
yang telah porak poranda, itu awal aku dapat mengenalmu jauh, awal tak ada rasa
yang ada dalam hati , “ sakit hatiku pada seseorang membuat aku mencari sebuah
tempat yang dapat mendengar keluh kesahku”. Mungkin aku bukanlah siapa- siapa
bagimu, tetapi semakin jauh aku mengenalmu semakin aku sakit dan terluka.
Mengapa harus kau buat aku sakit, mengapa harus kau buat aku menderita karena
rindu yang tiada bertabib, mengapa kau harus mencintaiku, hingga aku tak tahu
akan kemana berdiri dipersimpangan, kearahkan langkah kakiku kekanan maka luka
lama akan sakit kembali, kearahkan kakiku kekiri memulai sesuatu yang baru maka
aku harus dapat menerima akibat apa dan bagai mana selanjutnya, maniskah?
Pahitkah? Atau mungkin tak perna ada rasa karena ini hanya bayang- bayang semu.
Kearahkan langkah kakiku kedepan aku terseok membawa penderitaan ini. Berbalik
arah kebelakang semua itu sia-sia. “ tatap aku! “ apakah kau sanggup merajut
hari denganku? Sebelum kau rajut hari denganku bantu aku merajut benang- benang
yang telah terkoyak oleh sebuah dusta. Sanggupkah kau rajut benang-benang itu?
Sanggupkah ?
Cinta kadang membutakan semua tapi jangan membuatmu buta dan
gila. Aku memang mencintaimu, aku memang menyanyangimu, tapi aku harus sadar
siapa aku dan siapa juga kamu. Aku tak ingin membuatmu terluka hanya karena hari
yang akan kau rajut dengan ku begitu berliku, berkerikil dan terjal berat kau
bawa beban itu nanti, “ kau harus bisa melupakanmu, akupun harus coba untuk
melupakanmu. Biarlah kita rajut hari seperti hari – hari sebelumnya.
Tunggu…..Tunggu…Tunggu…….aku katakan ini karena aku tak ingin membuatmu terlena
dengan patamorgana , patamorgana hanya memberikan semua dengan palsu,
pandanglah senja ketika matahari akan terbenam lembayung datang dengan hati
yang berbunga, mentari berwarna jingga , hingga akhirnya harus menerima menjadi
hitam, kelam dan pekat.
Tangisku, airmataklu, lukaku, aku tak ingin membuat luka baru
dihatiku, aku tak ingin membuat aku kata
nantinya “ Jangan tinggalkan aku “ sekarang biarlah, sebelum terluka, sebelum
kau terlena dan sebelum aku benar- benar jatuh cinta dan sebelum semua berakhir
dengan duka, kita harus coba hilangkan rasa itu, biarlah kita pilih
persimpangan itu, biarlah harus kita jalani hari- hari itu tanpa aku dan aku
tanpa kamu seperti dahulu.
Bukankah? Para pujangga berkata, cinta tak harus memiliki,
cinta tak harus ada disisi, cinta tak harus tersakiti, dan cinta tak harus
memiliki, cinta harus berkorban. Maka korbankanlah perasaan itu, buatlah orang
yang kau kasihi memilih jalan, buatlah orang yang kau sayang menapaki hari dengan
hatinya.
Kucoba….akan ku coba…. Seperti aku mencoba melupakan masa –
masa yang telah aku lewati, seperti aku, kaupun harus mencoba, mencoba jangan
perna ada lagi rasa di hatimu……………………………. Bertahanlah ……bertahanlah
……bertahanlah berdiri dari rindu yang mendera, tegak….tegaklah tetaplah tegak dari dari buaian kasih, untuk
kita tidak saling jatuh cinta lebih jauh…………………… jadikan aku sebagai kekasih
dalam mimpi yang paling kau kasihi,
jadikan aku kekasih dalam angan yang paling kau sayang, dan jadikan aku kekasih
dalam khayal tempat berbagi. Biarlah
semua akan mengalir seperti dulu
Aku
yang tak dapat memilikimu, aku yang tak ingin membuatmu luka.