Selasa, 19 Juni 2012

Cerita Sedih


19 September 2009, begitu indah tatap matamu, begitu mempesonanya kamu dimataku, kuredam, semua bisa kuredam. Sekeping hatiku telah hancur dan lantak “ itu pikirku dalam lamun” akankah kuhancurkan kembali hati yang telah porak poranda, itu awal aku dapat mengenalmu jauh, awal tak ada rasa yang ada dalam hati , “ sakit hatiku pada seseorang membuat aku mencari sebuah tempat yang dapat mendengar keluh kesahku”. Mungkin aku bukanlah siapa- siapa bagimu, tetapi semakin jauh aku mengenalmu semakin aku sakit dan terluka. Mengapa harus kau buat aku sakit, mengapa harus kau buat aku menderita karena rindu yang tiada bertabib, mengapa kau harus mencintaiku, hingga aku tak tahu akan kemana berdiri dipersimpangan, kearahkan langkah kakiku kekanan maka luka lama akan sakit kembali, kearahkan kakiku kekiri memulai sesuatu yang baru maka aku harus dapat menerima akibat apa dan bagai mana selanjutnya, maniskah? Pahitkah? Atau mungkin tak perna ada rasa karena ini hanya bayang- bayang semu. Kearahkan langkah kakiku kedepan aku terseok membawa penderitaan ini. Berbalik arah kebelakang semua itu sia-sia. “ tatap aku! “ apakah kau sanggup merajut hari denganku? Sebelum kau rajut hari denganku bantu aku merajut benang- benang yang telah terkoyak oleh sebuah dusta. Sanggupkah kau rajut benang-benang itu? Sanggupkah ?
Cinta kadang membutakan semua tapi jangan membuatmu buta dan gila. Aku memang mencintaimu, aku memang menyanyangimu, tapi aku harus sadar siapa aku dan siapa juga kamu. Aku tak ingin membuatmu terluka hanya karena hari yang akan kau rajut dengan ku begitu berliku, berkerikil dan terjal berat kau bawa beban itu nanti, “ kau harus bisa melupakanmu, akupun harus coba untuk melupakanmu. Biarlah kita rajut hari seperti hari – hari sebelumnya. Tunggu…..Tunggu…Tunggu…….aku katakan ini karena aku tak ingin membuatmu terlena dengan patamorgana , patamorgana hanya memberikan semua dengan palsu, pandanglah senja ketika matahari akan terbenam lembayung datang dengan hati yang berbunga, mentari berwarna jingga , hingga akhirnya harus menerima menjadi hitam, kelam dan pekat.
Tangisku, airmataklu, lukaku, aku tak ingin membuat luka baru dihatiku, aku tak ingin membuat  aku kata nantinya “ Jangan tinggalkan aku “ sekarang biarlah, sebelum terluka, sebelum kau terlena dan sebelum aku benar- benar jatuh cinta dan sebelum semua berakhir dengan duka, kita harus coba hilangkan rasa itu, biarlah kita pilih persimpangan itu, biarlah harus kita jalani hari- hari itu tanpa aku dan aku tanpa kamu seperti dahulu.
Bukankah? Para pujangga berkata, cinta tak harus memiliki, cinta tak harus ada disisi, cinta tak harus tersakiti, dan cinta tak harus memiliki, cinta harus berkorban. Maka korbankanlah perasaan itu, buatlah orang yang kau kasihi memilih jalan, buatlah orang yang kau sayang menapaki hari dengan hatinya.
Kucoba….akan ku coba…. Seperti aku mencoba melupakan masa – masa yang telah aku lewati, seperti aku, kaupun harus mencoba, mencoba jangan perna ada lagi rasa di hatimu……………………………. Bertahanlah ……bertahanlah ……bertahanlah berdiri dari rindu yang mendera, tegak….tegaklah  tetaplah tegak dari dari buaian kasih, untuk kita tidak saling jatuh cinta lebih jauh…………………… jadikan aku sebagai kekasih dalam mimpi  yang paling kau kasihi, jadikan aku kekasih dalam angan yang paling kau sayang, dan jadikan aku kekasih dalam khayal  tempat berbagi. Biarlah semua akan mengalir seperti dulu

Aku yang tak dapat memilikimu, aku yang tak ingin membuatmu luka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar