Rabu, 22 Februari 2012

KASIH YANG TERTUNDA


“Raya”, panggil  seseorang di belakangku ketika aku akan berangkat ke kampus pagi ini, memang jalan yang aku lalui terlalu sepi untuk waktu sekarang karena jam orang berangkat ke kantor, kulihat jam dipergelangan tangan kananku, waktu baru menunjukan pukul 07.30. Aku menoleh kebelakang, dan berbalik badan menghampirinya sambil sedikit  berlari kecil.
            Ya, ada apa ? tanyaku setibanya di hadapannya.
“Kenapa, kamu tidak mau mengangkat  teleponku semalam ?” dia balas bertanya kepadaku. Kutatap matanya yang penuh keteduhan, kulihat ada setitik bening di bingkai bola matanya, Batinku berkata “ apa dia bersedih” karena tidak perna aku mengangkat telponnya selama seminggu ini.
“ Kamu marah ?” tanyanya lagi, aku tetap diam membisu
“ jawab dong Raya ?’  sambil memegang dan mengoyang- goyangkan pundakku
“ bukankah sudah terjawab ? “ dengan  melepaskan kedua tangannya dari pundakku.
“ apa yang sudah terjawab Raya ?” gadis itu, itu bukan jawaban yang tepat, kamu belum mengetahui kejadian yang sesungguhnya ?” ujarnya
Aku berlari, tanpa menoleh kebelakang
“ Raya dengar saya dulu ?’ dengan terus mengejarku dan tergapai tanganku , dengan telapak tangannya yang kasar dia memegang lembut tanganku, hingga aku dan dia berjalan sejajar menuju halte bus. Tuhan apakah tak boleh orang seperti aku mencintai dirinya , memiliki dirinya sepenuh hati yang ku punya.
            Yah, disinilah  aku pernah merasakan dekap hangat tubuhnya kala hujan menggantung diatas awan, dia begitu takut air hujan akan membasahi tubuhku atau mengenai sedikit gaunku saat itu. Dia begitu berati bagiku saat itu, tetapi sekarang tidak ada lagi rasa itu, rasa begitu memiliki dirinya , walau berada didekat dirinya. Dia telah menyakiti hatiku, dia telah menghancurkan harapanku, dia telah menduakan cintaku.
Aku sedih, mengapa dia begitu tega menduakan cintaku, dan menyakiti hatiku.
“ Raya, bicaralah padaku ?” agar aku dapat menebus dosaku padamu” tanyanya
Setelah sekian lama tak ada suara dariku, sambil menatap dalam mataku hingga menembus relung hatiku yang paling dalam, “Jangan kau tatap aku seperti itu “ hatiku bekata, dia tatap aku seperti itu semakin aku tak dapat melupakan sakit hatiku padamu .
Kusapu air mataku, yang mulai mengalir deras di ujung sudut mataku, kutatap matanya tajam, apa memang ada kebenaran dalam kata- katanya tadi ?
“ Raya, aku janji aku tak akan menyakiti perasaanmu lagi, seraya  menggenggam erat kedua belah tangganku.
            Dua hari berlalu setelah pembicaraan di halte bus itu, aku pergi ke toko buku dekat rumah, mataku terbelalak lebar dimana aku harus melihat kenyataan pahit ini, hatiku perih bagai disayat sembilu, seorang wanita manis dengan kulit hitam manis bergelayut manja ditubuhnya  yang kekar. Jantungku behenti berdetak seketika itu,  air mataku mengalir deras, aku berlari meninggalkan pemandangan itu, aku tak sanggup melihat semua ini. Aku menangis ...
            Mengapa aku begitu bodoh di hadapannya, selalu mau memaafkan dirinya walau sudah berulang kali aku disakiti, aku hanya menjadi dermaga persinggahan dirinya  kala dirinya  sepi dan sendiri. Setelah lepas sesak di dadaku, kuterus berjalan menyusuri jalan yang biasa aku lalui ketika bersama dengannya .
            Mengenang semua tentangnya  memang tak ada habisnya. Aku mengenalnya ketika duduk di kelas dua SMU, dia selalu menggodaku waktu aku akan  berangkat
Ke sekolah dan sering mengantarku pergi  ke sekolah dengan vespa bututnya, katanya vespa itu adalah barang yang paling berharga karena bisa mengantarkan gadis maniz sepeti aku, itu dulu ketika dia sering membisikkan kata- kata manis dalam hidupku, kata- kata cinta yang dia ucapkan setiap hari rasanya tak pernah habis ia berikan kepada diriku. Aku selalu terbang tinggi mendengar puisi- puisi cinta yang setiap waktu ia berikan kepadaku. Sampai akhirnya aku temui kenyataan  pahit yang ada di hadapanku.
            Hanphoneku bergetar lagu dari grup band Ungu mengalun indah dari ring tone handphoneku, dengan malas aku bangkit dari tempat tidurku, ku raih handphoneku sambil malas ku tekan tombol yes. “Hallo, sapa dari sebrang sana,, suara yang amatku kenal, suara yang meluluhkan hatiku, suara yang membuatku tidak dapat berfikir jernih, “ Raya, aku tunggu kamu besok siang sepulang kamu kuliah ? tanyanya lagi. “Untuk apa , kamu ingin menemuiku ? balasku
“ untuk menyakiti hatiku lagi?” atau ingin mengucap selamat tinggal padaku”.
“ please Raya ,temui aku besok sore, ditempat kita bertemu pertama kali.
Dengan anggukan pelan aku jawab  “ oke , aku akan menunggumu besok jam 3 sore
            Sore ini aku ada janji dengannya di tempat di mana kita pernah berjanji bahwa dia akan melindungiku dan mengasihiku sepenuh hatinya.
 Cafe ini terlalu sepi  aku mencari tempat yang nyaman untuk aku dapat  duduk dan berbicara dengannya. Kupilih tempat disudut dekat jendela yang menghadap ke jalan raya sebelah timur,  biasanya jam- jam sekarang ini, banyak sekali anak –anak berseragam putih abu – abu nongkrong di cafe ini. Apa mereka sudah boring duduk- duduk di cafe ini atau lagi nggak punya uang maklum tanggal tua. Tak lama berselang datang dirinya dengan kaos warna biru warna favoritnya dan celana jeans belel biru dia menghampiriku.
“ Sudah pesan makan?” tanyanya.  “ belum, sahutku, dengan malas.
Wanita berseragam hitam putih menghampiri kami bedua.“ Pesan apa Mas?” tanyanya, “Dua orange jus , satu Crepsy cold stawberry dan satu beef berger,” jawab orang yang kukasihi. Setelah mencatat pesanan kami wanita itu berlalu membawa daftar pesanan kami 
“ apa Kamu mau mendengarkan penjelasan aku Raya?” tanyanya lagi, belum sempatku jawab pertanyaannya pelayan  yang memamakai seragam hitam putih  menghampiri kami membawakan makanan pesanan kami, setelah mengantarkan pesanan kami pelayan itu berlalu meninggalkan kami berdua dalam kebisuan.
“ Raya jawab pertanyaan aku?” tanyanya lagi
“ iya” aku mengangguk lemas menjawab pertanyaannya
Dia menceritakan semua tentang dirinya dengan lancar yang belum pernah aku dengar sebelumnya, bahwa dia telah menikahi seorang gadis,  yang aku lihat sore itu di depan taman toko buku.
Hatiku hancur, aku tak dapat berkata, mulutku kelu, aku menanggis ......................
Aku berlari meninggalankan cafe itu, tak kuhiraukan lagi makanan yang ada dimeja yang ada di otakku sekarang ini adalah berlari dan  menanggis , aku tak dapat membayangkan orang yang telah menbuat hatiku berbunga- bunga selama 6 tahun ini tiba – tiba mengatakan sesuatu yang tak pernah ku duga sebelumnya. Padahal dia tahu,  kalau dia adalah suplemen hidupku selama ini yang hampir hancur. Dia memberikan semangat hidup waktu aku akan berniat  bunuh diri ketika kedua orang tuaku meninggalkanku  karena kecelakaan bus di tol jagorawi. Aku merasa sendiri saat itu, tak punya siapapun di dunia ini tapi semangatnya kepadaku membuatku hidup kembali dan dapat menjalani hari tanpa beban hingga saat ini.
            Setibanya dirumah, langsung menuju kamarku, ku hempaskan badanku keatas busa lembut, dan kubenamkan kepalaku dalam bantal, aku menangis tiada henti ..... hingga aku tertidur. Lama dalam tidurku aku tersentak dikejutkan oleh dering pesan hanphoneku, kubuka dan kubaca “ sayang memang selama ini aku tak sanggup  mengatakannya dengan jujur kepadamumu, karena cintaku terlalu kuat terhadap dirimu, tetapi aku tak bisa memaksakan kehendak orang tuaku yang menderita sakit parah,dia meminta aku  untuk menikahi gadis yang ia pilih untukku, jadi dengan berat hati aku harus menerima keinginan orang tuaku. Bukankah cinta sejati tidak harus memiliki ?
Itu pesan singkat yang aku terima darinya sore hari, mungkin terakhir pesan singkat itu aku terima darinya. Hatiku beku tak sanggup menghadapi semua ini. Matahari senja kian beranjak keperaduan malam. Diriku termenung dalam kebisuan tanpa memperdulikan sesak yang ada di dada, kusapu air mata dengan perasaan pedih.
            Akhirnya aku harus menerima kenyataan ini,  bahwa aku harus berpisah dengan dirinya mungkin ini adalah sebuah cobaan hidupku, atau  Tuhan  akan memberikan seseorang yang lebih baik dari dirinya dengan mencintaiku tulus. Cintaku tertunda untuk saat ini


Thanks To : Seseorang yang sering menyakitiku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar